Sabtu, 07 Maret 2015

SEPUCUK ASA UNTUK BANGSA



SEPUCUK ASA UNTUK BANGSA
Oleh: Ahmad Roki Robbani



Wahai Pejuang..
Ada satu berita yang telah kita ketahui bersama, berita itu ada dan tetap ada dalam goresan besar pohon sejarah, dimana akarnya mengingatkan kita akan kuatnya perjuangan dan pengorbanan kakek dan nenek kita, para pejuang bangsa. Dimana batangnya kokoh menjulang keatas dan tegar menahan berbagai macam sebab yang ingin meruntuhkannya, ia seperti kekuatan tekad yang bulat dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Dimana rantingnya yang senantiasa memanjang melebarkan segala potensi yang dimilikinya, dimana daunnya yang hijau dan segar mengingatkan kita para pewaris bangsa yang selalu aktif dan produktif untuk bermanfaat, disisi lain daun itu menjadi sumber kekuatan untuk menjalani rantai peradaban sebuah bangsa. Bunganya nan cantik memancarkan keanggunan dan kharismatik indah budaya kita. Buahnya yang merah selalu kita banggakan sebagai pertanda kejayaan dan kemakmuran sumber dayanya.
Duhai Pejuang tahukah engkau berita itu? Ya, itu adalah berita tentang negeri kita, nusantara kita, sebuah pohon peradaban Indonesia. Mungkin kita semua sudah tahu atas apa yang terjadi pada pohon tersebut. Buahnya banyak yang terjatuh sia-sia dan membusuk, ada yang diambil tanpa izin oleh pihak-pihak yang menginginkannya, ada yang tak utuh dimakan ulat yang mendiaminya. daunnya kini mulai banyak yang jatuh berguguran, mungkin tidak semua tapi sudah mulai menguning dan layu. Rantingnya sangat mudah terjatuh walau hanya diterpa angin sepoi nan mendayu. Batangnya kini mulai lapuk karena tekad yang mulai meluntur. Serta akarnya yang tak bisa banyak menyerap nutrisi karena keringnya semangat para pejuang dan hilangnya pengorbanan tulus dari mereka yang ‘katanya’ pahlawan. Bahkan jati diri bangsa mulai tergerus, terkikis, menepis dihantam derasnya arus dunia.
Mari sejenak kita dengarkan rintih pohon nusantara kita. Sekarang dan kedepan kita semua akan dihadapkan oleh berbagai macam pilihan, bagai menggenggam sebongkah emas ditangan kanan dan bara api di tangan kiri. Sebuah kejayaan yang gemilang atau semua kehancuran yang menghinakan. Beberapa periode perjalanan bangsa semenjak kemerdekaan dikumandangkan, rakyat bangsa indonesia telah menggunakan berbagai macam pupuk untuk menyelamatkan dan menyuburkan pohonnya. Bahkan sempat rela mencangkok bagian pohon ini demi harapandan cita-cita yang lebih baik kedepan.
Jika kita menceritakan ada macam daun yang layu dan menguning. Maka akan kita kabarkan sebuah daun hijau nan segar yang senatiasa berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Tahukah kalian siapakah daun yang hijau dan segar tersebut? Mereka adalah para intelektual muda para mahasiswa dan rakyat yang gigih berjuang demi memakmurkan bangsa dan bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Mereka rela berkoban dengan waktunya dan dengan harapan kedua orangtua dipundaknya untuk menjadi seseorang yang bermanfaat dan berpengaruh pada aktivitas positif orang banyak. Mereka selalu memegang keimanan dan idealisme sebagai unsur terpenting dalam menjalani harinya.
Kita sama-sama menantikan bersama para daun hijau dan segar itu untuk tetap berkarya dan berkonstribusi, karena para daun hijau dan segar itu tahu makna sebuah kalimat yang diucapkan oleh salah satu ayahanda-nya “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ”Tuhan tidak merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno). Karena kelak kita danmereka akan merubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik. Karena kita semua para pejuang.

RESUME BUKU BEGINI SEHARUSNYA MENJADI GURU



RESUME BUKU




“BEGINI SEHARUSNYA MENJADI GURU”
Karya: Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub

Pendahuluan

            Profesi sebagai pendidik merupakan posisi sosial yang paling strategis dalam sebuah sistem. Karna dengan memegang nama sebagai pendidik merupakan sebuah kehormatan dan kemuliaan dalam masyarakat tak terkecuali dalam agama Islam. Di pundak seorang pendidik terpikul tanggung jawab yang agung yaitu membentuk generasi dan mengarahkannya kepada jalan Allah. Dalam buku “Begini Seharusnya Menjadi Guru (Panduan Lengkap Metodologi Pengajaran Cara Rasulullah)” ini menjelaskan berbagai macam materi dan mekanisme yang seharusnya seorang guru lakukan dengan berasas pada pengejaran Rasulullah saw, sebagai teladan serta guru perabadan terbaik sepanjang masa.

BAGIAN PERTAMA  
  
Pada pembahasan awal, buku ini menjelaskan perihal sikap dan sifat-sifat dan karaktek yang seharusnya dimiliki seorang guru, pembahasan ini mengartikan bahwa sebelum bisa mengajarkan sebuah pemahaman ilmu kepada orang lain baik, pemahamanruhiyah(rohani), fikrah(pemikiran), maupun jism (fisik), tentulah seorang guru harus melayakkan dirinya berdasarkan pada sifat-sifat mulia dan karakter yang Nabi ajarkan. Selain itu seorang guru haruslah mempunyai akhlak, pemikiran dan tutur kata yang baik. Karena sejatinya dengan memilih jalan menjadi seorang pendidik berarti harus berupaya kepada diri sendiri untuk bisa dijadikan qudwa (teladan) bagi para muridnya. Seperti sifat  senantiasa menghadirkan niat Ikhlas sebagai kunci dasar pengamalan ilmu dan mengokohkan tujuan mengajarnya yang hanya diorientasikan keridhaan Allah. Sifat jujur sebagai mahkota yang memiliki cahaya terang benderang yang dimiliki seorang guru karena ini merupakan landasan kepercayaan murid terhadap gurunya. Sifat Konsisten antara ucapan dan perbuatan. Dan sifat Matinuul Khuluq(Akhlak yang kokoh) lainnya. Tidak lupa seorang guru haruslah tetap melakukan konsultasi dengan orang lain yang dianggap lebih faqih (paham) dari dirinya, agar sama-sama dapat menyebarkan manfaat, menjaga kebaikan dan mengoreksi terhadap prilaku yang dilakukan.

BAGIAN KEDUA

Pada pembahasan selanjutnya, seorang guru wajiblah mengetahui tugas dan kewajibannya sebagai pendidik. Jika saat ini banyak para siswa yang menyukai kekerasan, berpikiran negative melebihi batas usianya, serta melakukan berbagai macam tindakan asusila bahkan mengacu pada kriminalitas, maka tugas dan kewajiban gurulah yang harus memperbaiki keadaan pelajar pada saat ini dengan menanamkan akidah yang benar dan senantiasa berusaha memantapkan kualitas iman siswa pada saat proses belajar mengajar. Karena seorang guru dituntut untuk mendidik, tidak hanya menyampaikan materi pelajaran. Sikap-sikap yang dilakukan guru secara langsung juga dibahas pada bagian ini. Pembelajaran yang lembut dengan metode yang sudah dikuasai secara matang. Tidak menyebutkan nama secara langsung ketika memberi teguran yang merupakan etika dasar yang harus dilakukan seorang guru. Senantiasa memberikan nasihat baik arahan maupun peringatan. Memberikan penghargaan kepada murid atas usaha yang mereka lakukan, dan terakhir selalu memberi salam saat berjumpa dengan murid-muridnya. Merupakan contoh kecil yang harus diperhatikan dan tentu hal ini telah dicontohkan oleh rasulullah saw 14 abad silam.

BAGIAN KETIGA
         
Pada bagian terakhir buku ini, pembahasan lebih mengarah kepada aplikasi karena berkaitan dengan sistem dan metode yang digunakan saat mengajar. Metode yang dianjurkan dan telah terbukti efektif dalam pengaplikasiannya berupa:
1.      Metode Penjagaan kontak (dengan intensif secara berkala memperhatikan pendengan dan penglihatan antara guru dan siswa).
2.      Metode praktik (Peragaan) yang mempunyai dampak besar dalam ingatan murid.
3.      Metode dialog dan Pendekatan logika sebagai pengantar pemahaman ilmu agar lebih mudah dicerna.
4.      Metode lewat kisah yang mengajarkan pentingnya hikmah dan perkembangan imajinasi murid.
5.      Metode permisalah sebagai penyampaian yang tepat dan efektif dan hal ini sudah dianjurkan oleh Allah swt dalam surat Az-Zumar:27, Al-Ankabut: 43 dan masih banyak lagi.
6.      Metode dengan membangkitkan rasa penasaran.
7.      Metode menggunakan Isyarat (gerakan tangan dan kepala) yang menjadikan pembelajaran lebih efektif
8.      Menggunakan Gambar, memberikan kerang berpikir, sistematis dan jelas.
9.      Menerangkan masalah-masalah yang penting menggunakan metode penafsiran.
10.  Memberi ruang kesempatan kepada murid untuk mencari jawaban.
11.  Menanamkan pentingnya repeating (pengulangan) dan menyampaikan.
12.  Melontarkan pertanyaan ilmiah yang masih samar untuk menguji kemampuan otak siswa.
13.  Penggunaan motivasi untuk melakukan pertanyaan.
14.  Mempresentasikan pertanyaan dan menentukan jawaban yang sesuai dengan kondisinya.
15.  Memberikan penilaian untuk mengukur seberapa bagus hasil pemikirannya.

Serta salah satu yang terpenting berani mengucapkan ketidaktahuan terhadap apa yang tidak diketahuinya, karena ini merupakan bagian dari ilmu. Demikianlah ringkasan dari pembahasan buku “BEGINILAH SEHARUSNYA MENJADI GURU”, pada buku ini selalu dilengkapi sirah (sejarah) nabi terhadap peristiwa yang terkait dan hadist-hadistnya. Semoga bermanfaat. ;)

Selow Aja?



SELOW AJA (SANTAI SAJA)”
Oleh: Ahmad Roki Robbani

Selow aja kali, masih ada besok” dan “Woles bro, nanti dilaksanain kok”. Dua kalimat tersebut ataupun yang serupa merupakan kalimat yang seringkali saya dengar dalam bersosialisasi dengan remaja sebaya ataupun lebih muda dari saya. Mendengar kata tersebut cukup membuat hati ini terdiam dan seakan menaruh harapan atas apa yang akan dia dilakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk membiarkan masalah tersebut dan mencoba melihat hasil dari pekerjaannya. Waktupun berlalu, seiring kalimat pengingat yang kuucapkan mungkin membuat dirinya khilaf, lantas kucoba untuk menegurnya untuk yang kedua kali dan kalimat tersebut terjadi dan kembali terulang. Saya pikir daripada mencoba menunggunya untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, lebih baik saya yang mencoba menyelesaikannya.
Kasus diatas secara tidak sadar menimbulkan beberapa pertanyaan dalam diri kita. Apa yang salah dari sepenggal kisah diatas? Mungkin kelalaian atau murni kekhilafan? Tentu kita tidak akan pernah mengetahui apa yang ada didalam hati manusia melainkan Allah SWT. Tetapi dengan sangat mudah disadari terdapat kata respon yang diucapkan oleh lawan bicara, yaitu kata “Selow/Woles” atau biasa diartikan dalam bahasa Indonesia yakni santai/tenang. Kata tersebut merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yakni “Slow” yang berarti lambat.
Dalam kehidupan sehari-hari, remaja kita di Indonesia memang senang sekali menggunakan kosakata baru dalam melakukan interaksi sosialnya baik kepada teman sejawat, seseorang yang lebih muda maupun yang lebih tua. seperti kata Sepik (Omong Kosong), Bokis (Bohong) dll. pada tulisan kali ini kita tidak akan membahas mengenai banyaknya istilah-istilah bahasa Indonesia yang asing yang seringkali kita dengar dan ucapkan. Tetapi kita akan membahas mengenai penggunaan kata “Selow/Woles” yang seringkali kita kita dengar di lingkungan sosial kita.
Sah-sah saja memang jika kita menggunakan kata tersebut dalam melakukan interaksi dengan  seseorang. Walaupun belum ada penelitian yang membahas menganai efek dari kebiasaan menggunakan kataini, namun saya rasa penggunaan yang terlalu sering terhadap kata tersebut cukup membuat kita menaruh perhatian. Pengucapan kata “Selow/Woles” yang kita lakukan secara terus menerus dapat menjadi peluru ghazwul fikr terhadap diri kita sendiri. Secara psikologi, kata yang sering diucapkan secara terus menerus dapat melekat kedalam longterm memory kita dan dapat mempengaruhi prilaku kita. Setidaknya itulah maksud dari penelitian Johg Barg terhadap pengaruh sebuah kata. Jika itu berlaku terhadap kata yang berkonotasikan positif maka hal itu berlaku juga dengan kata yang berkonotasikan negatif. Secara tidak langsung jika kita mengambil makna penelitian Johg Barg diatas, pengaruh kata “Selow/Woles”, bisa menjadikan cara berfikir dan prilaku kita menjadi santai/tenang. Tapi Hmmm.. apakah benar begitu? Kita telah sama-sama mengetahui dalam Al-Quran Surat Ar’Rad ayat 13 bahwa HANYA dengan mengingat Allahlah kita menjadi tenang. Lantas apa makna lain yang sebenarnya dari kata “Selow/Woles” yang sering diucapkan secara terus menerus?

Mari kita kembali kepada kasus diatas, dengan pengucapan kata tersebut yang dilakukan secara berulang-ulang, maka hasil yang didapat bukanlah sebuah ketenangan melainkan lebih mendekati sebuah kelalaian. Ya, sebuah kelalaian. Mengapa? Karena dengan pengucapan kata “Selow/Woles” yang dipakai secara terus-menerus secara otomatis tubuh dan pikiran kita akan merespon kata tenang yang coba dibuat-buat, sehingga terjadi sebuah penundaan demi penundaan. Jika terus berlanjut maka kondisi yang berlaku selanjutnya adalah sebuah kelalaian. Banyak kisah orang-orang salaf dan sahabat nabi agar berlaku waspada terhadap kelalaian. Seperti kisah prajurit Talut yang meminum air di sebuah sungai melebihi yang diperintahkan sehingga jadilah mereka orang-orang yang lalai atau seperti prajurit yang berjaga di bukit sewaktu perang uhud. Dengan prasangka-prasangka bahwa peperangan telah berakhir dan mendapatkan kenyamanan dan keamanan mengakibatkan mereka lengah dan lalai terhadap apa yang dipertintahkan Nabi Muhammad saw kepada mereka.
Sebagai seorang muslim tentulah kita harus memperhatikan lingkungan sosial yang terjadi, dengan mengenali ciri-ciri yang tidak sesuai dengan manhaj Agama Allah, maka bisa dipastikan secara halus merupakan sebuah serangan ghazwul fikr terhadap kita. Penggunaan kata “Woles/Selow” yang marak terjadi dalam interaksi remaja muslim di Indonesia dan dilakukan secara terus menerus, secara tidak langsung dapat membawa bangsa ini menuju kelalaian dan sikap bersantai-santai dengan kondisi yang terjadi. Hal ini sangatlah berbeda dengan yang seharusnya didapat oleh remaja dan kaum muslim pada doa-doa mereka, terutama saat menghayati surat Al-Fatihah ayat 6-7 yang kita ucapkan dalam shalat. Dimana kita meminta sebuah jalan yang lurus, dimana didalamnya terdapat jalan risalah para nabi yang penuh dengan ujian dan jauh dari kenyamanan. Merekapara Nabi dan orang-orang yang beriman senantiasa memohon jalan yang diberkahi untuk melalui kerasnya kehidupan dan menjual dirinya untuk kehidupan akhirat. Semoga senantiasa mengingatkan kita kepada Allah swt dan dijauhkan dari kelalaian. Aamiin.
Wallahualam bissawab.

Rabu, 16 Juli 2014

Al- Indibath (Kedisiplinan)








     Displin menurut KBBI merupakan ketaatan (kepatuhan) kpd peraturan (tata tertib dsb), ber·di·sip·lin  menaati (mematuhi) tata tertib dan men·di·sip·lin·kan membuat berdisiplin; mengusahakan supaya menaati (mematuhi) tata tertib. Kedisipilinan merupakan faktor penentu berbagai macam keberhasilan dan kemenangan. seperti halnya para prajurit badar yang mempunyai kedisiplinan tinggi terhadap perintah-perintah Allah dan Rasulnya. Namun dibalik teraturnya segala kedisiplinan yang dilakukan mempunyai ujian berat yang selalu beriringan dengan indibath (kesidiplinan) itu sendiri. seperti contoh pada perang uhud dimana para pasukan muslim diuji dengan banyaknya ghanimah (harta rampasan perang yang tersedia) di bagian bawah bukit uhud. dan dengan kelalaian dan ketidaksiplinan yang dilakukan mengakibatkan kerugian yang amat besar yang ditanggung ummat muslim saat itu berupa gugurnya para sahabat yang dicintai nabi.

Indibath sendiri mempunyai 5 macam, yaitu:

1. Al-Indibath As-Syar'iriyyah (Disiplinan dalam Syariat)
    Kedisiplinan yang dilakukan dalam hal-hal yang syar'i sangatlah penting dan menjadi prioritas utama, karena hal ini berbicara dengan akidah. kedisiplinan dalam hal syariat menyangkut peran halal dan haram didalamnya. oleh karena itu kedisiplinan dalam hal syariat islam perlulah dijaga dan ditingkatkan. adapun dengan melanggar kedisiplinan ini secara langsung melanggar apa yang diperintahkan oleh Allah swt.

2. Al-Indibath Al-Khuluq (Disiplinan dalam Akhlak)
    Disiplin dalam berakhlak merupakan faktor yang harus diperhatikan, karena dengan sempurnanya kedisiplinan yang tercermin dalam akhlak yang baik merupakan tanda kesempurnaan iman. kedisiplinan akhlak yang dilakukan seorang dai dalam menjaga norma perilaku menjadi pintu gerbang ketertarikan ummat
terhadap dakwah islam.

3. Al-Indibath Al-Amaly (Disiplinan dalam Amal)
    Disiplin dalam beramal dilakukan secara sistematis dan beraturan serta tidak berantakan dan serampangan. dengan disiplin atas amal yang kita lakukan sama dengan menata tugas-tugas yang ada sehingga tidak ada tugas yang molor atau miss target. Nabi Muhammad saw memotivasi ummatnya dengan sabdanya: "Allah menyukai amal seorang diantara kamu yang rapih amalnya.". Amal yang rapih dan baik berimplikasi pada hasil yang produktif dan nuansa seseorang yang melakukannya

4. Al-Indibath At-Tarbawi (Disiplinan dalam Tarbiyah)
    Disiplin tarbawi merupakan pondasi dalam amal-amal yang lain. dengan disiplinnya tarbawi yang kita lakukan maka kita senantiasa membina diri dan menempa kesalihan pribadi dan amal sosial. banyak kelonggaran dalam tarbiyah, yang ditolerir terus menerus dapat meruntuhkan amal prioritas dan berefek kepada amal-amal yang lain.

5. Al-Indibath At-Tandzhimi (Disiplin dalam Struktur)
   Disiplin terhadap arahan dan ketetapan struktur. Ketentuan tersebut menjadi kebijakan yang mengikat kader-kader yang berhimpung di dalamnya. dengan begitu segala aktivitas yang dilakukan kader sejalan dengan arahan yang menjadi kebijakan struktural.
    
     




Resume Buku Fathi Yakan - Robohnya Dakwah di Tangan Da'i



RESUME BUKU FATHI YAKAN
“Robohnya Dakwah di Tangan Para Dai”

 



BAB 1 FENOMENA KEHANCURAN GERAKAN DAKWAH

Kisah perjuangan dakwah di Libanon memberikan kita banyak hikmah dan pelajaran yang begitu berarti, kehancuran bangunan dakwah yang semula sudah kokoh dengan mudah diruntuhkan oleh berbagai macam pihak baik internal maupun eksternal. Kehancuran ini juga dipicu oleh bobroknya moral, system dan segala penunjang keberhasilan dakwah, sehingga terjadi konflik diseluruh wilayah libanon dan ironisnya mengatas namakan Islam.
Diantaranya ada 7 faktor yang menyebabkan konflik di Libanon itu terjadi:
1. Ma’anah I’tiqadiyah ( Imunitas Keimanan ) yang telah hilang
2. Terlalu mementingkan aspek kuantitas dalam rekruitmen anggota
3. Terjadinya penggadaian organisasi oleh pihak luar, baik sesame organisasi maupun negara
4. Tergesa-gesa dalam meraih kemenangan, meskipun tidak diimbangi dengan sarana yang memadai
5. Munculnya pusat-pusat kekuatan. aliran, dan sayap-sayap gerakan dalam tubuh organisasi
6. Campur tangan pihak luar
7. Lemah atau bahkan tiadanya kesadaran politik dalam gerakan dakwah


BAB 2 APA YANG TERJADI DI NEGERI ISLAM?

Negeri Islam saat ini pada umumnya masih lemah kepekaannya menghadapi berbagai macam fenomena yang berupaya meruntuhkan bangunan dakwah. Hal itu disebabkan beberapa factor yang berkaitan dengan system Islam dan system Tarbiyah, yang merupakan factor prinsip dalam proses menegakkan aspek keyakinan, ibadah, maupun akhlak. Secara tidak langsung kita sudah mempunyai berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh gagalnya memahami akan sebuah makna perbedaan pikiran dan pendapat. Sehingga perbedaan yang terjadi menunjukkan terpecah belahnya umat islam atau banyaknya ragam aliran gerakan (Ta’adudiyah) dan munculnya kesesatan dalam berjamaah yang dipicu Fanatisme Tercela Semata ataupun Fanatisme kepada Lembaga (Ashabiyah Hizbiyah) bahkan timbulnya Fanatisme yang menceraikan persatuan. Sehingga umat dibuat bingung dengan berbagai macam aliran ini dan semakin tidak mengetahui manakah yang mengamalkan nilai Islam dan kepada siapakah loyalitas mereka akan diberikan. Permasalahan selanjutnya adalah maraknya fenomena bid’ah yang pada saat ini mampu menyibukkan kaum muslimin. Mereka menuduh dengan sporadis tentang suatu amalan yang asing bagi kalangan tertentu sehingga menyebut kalangan lain yang melakukan amalan tersebut tanpa ada peninjauan, kajian, analisis, pencocokan dengan landasan syariat dan secara mudah membid’ahkan yang lain bahkan mengkafirkannya. Akhirnya yang dituntung untuk kaum muda adalah belajar agama Islam terlebih dahulu sebelum berani memberi fatwa dan menentukan hukum.


BAB 3 Fenomena Keporak-porandakan Negeri Islam

            Ada beberapa factor yang memicu lahirnya keporak-porandakan di negeri islam, yaitu sebagai berikut:
1.      Orientasi Massal Abaikan Pembinaan
2.      Perhatian Berlebih terhadap Slogan
3.      Perhatian lebih terhadap Kuantitas
4.      Orientasi Kemiliteran
5.      Keterbukaan dalam Segala Hal
6.      Tiadanya Kesadaran Politik
7.      Jalan Pintas
8.      Lemahnya Aspek Pendidikan
9.      Tersebarnya Ghibah dan Namimah
10.  Lemahnya Kepercayaan kepada Pemimpin
11.  Munculnya Sentral Kekuatan dalam Tatanan

Salah satu faktor yang melahirkan perbedaan dan perselisihan yang mengakibatkan kehancuran adalah kegagalan gerakan dalam menangani masalah yang urgen atau kekalahannya bertempur. Telah terjadi kehancuran yang harus dibayar mahal oleh gerakan, bak dengan para tokoh maupun pemudanya. Awalnya saling mencela, menuduh, mengkritik dan saling melukai perasaan. Akhirnya lanjut hingga saling mendengki. Kemudian mucullah keporak-porandakan barisan dalam tatanan (Qaidah) maupun pemimpin (Qiyadah) secara bersamaan. Nudzubillah hi mindzalik


BAB 4 Bagaimana Menjaga Bangunan Dakwah?

1.      Tegakkan Bangunan di Atas Landasan Takwa kepada Allah SWT (QS. At-Taubah: 109), membangkitkan ataupun meningkatkan ketakwaan kepada Allah akan menjadi pintu yang strategis manakala menerapkan point-point berikut:
·         Ihsan
·         Shaum
·         Zikrullah
Takwa adalah benteng pertahanan baik bagi individu maupun jamaah, dan merupakan factor penyebab keberhasilan sebuah aktivitas dan cahaya yang menerangi cara pandang dan pola pikir,  juga merupakan sebuah kekuatan yang dengan itu mampu dengan ringan menjauhi kemaksiatan dan syubhat apalagi tindakan keji dan merusak.
2.      Kukuhkan Ukhuwah Karena Allah
3.      Bangunlah Fondasi Saling Wasiat dalam Kebenaran
·         Kebenaran berada di atas segala-galanya dan semua orang harus tunduk dihadapannya, baik anggota maupun pimpinan (Q.S Al-Ahzab: 36)
·         Semua orang sejajar di hadapan kebenaran, baik anggota maupun pemimpin, bawahan maupun atasan
·         Pemimpin berhak melakukan ijtihad tentang sesuatu yang tidak ada teks dalil syariatnya
·         Para individu hendaknya saling menasihati sesamanya, begitu pula pemimpin
·         Penegakan amar ma’ruf nahi mungkar dalam syariat Islam hanya ditujukan terhadap semua kemungkaran yang tidak diperselisihkan dan tidak boleh ditegakkan terhadap masalah ijtihadiyah
·         Dalam menegakkan tradisi nasihat-menasihati dan amar ma’ruf nahi mungkar hendaknya diperhatikan syarat-syarat syar’I, antara lain:
1.      Mencari kejelasan dan kebenaran berita sebelum memulai langkah mengkritik atau menasihati.
2.      Memeriksa tujuan, hendaknya seorang yang ingin menasihati, seyogyanya memeriksa motivasi yang mendorongnya ingin melakukan hal tersebut, untuk menghindari nafsu, iri hati, dan penyakit hati yang keji lainnya.
3.      Memperhatikan cara.
·         Tidak mengenal kemungkaran dengan cara yang tidak syar’i
4. Tegakkan Tradisi Syura
5. Menjalin Hubungan Karena Cinta dan Kasih Sayang
6. Tegakkan Landasan Sukarela dalam Bekerja
7. Sungguh-Sungguh dalam Menjaga Nilai-Nilai Syariat dan Dakwah
8. Bangungan Penguasaan dan Pemahaman
9.  Strategi dan Organisasi
10. Perhatikan Kelengkapan dan Keseimbangan

Demikianlah hasil resume yang didapat dari buku fathi yakan, semoga bermanfaat ;)